Renungan
———————————————————————————————-
Saudaraku…
Hadits diatas sangat perlu kita resapi dalam-dalam bagi kita seorang muslim dan muslimah sejati, terutama kepada kader da’wah. Mungkin saja kita lupa atau khilaf dalam menjalankan kehidupan ini. Untuk itu mari kita saling nasehat menasehati…
Chating…
Hari ini sudah banyak pasilitas yang bisa menghubungkan seseorang dari jarak jauh dengan teman, adik, kakak, abang, paman, mantan teman dan bahkan mantan pacar yang sudah lama hilang dari peredaran kahidupan pribadi kita. Salah satu pasilitas itu adalah melalui chating di inbox yang ada di komunitas jejaring social yang ada di internet seperti facebook, dll.
Kita sangat sadar sekali, kalau kita berkomunikasi melalui chating, tidak ada satu orangpun yang tahu kecuali Allah. Awalnya mungkin chating hanya sekitar pertanyaan dan jawaban tentang aktifitas, kemudian tempat tinggal… intinya pembicaraan ringan… “Untuk perasaan pada saat itu sih biasa-biasa saja” jawab kita dalam hati… Namun setelah pembicaraan itu masuk pada wilayah perasaan, (mungkin saat itu kita lagi ada persoalan dg suami atau Istri atau persoalan lainnya) disinilah syetan mulai memainkan peran yang sebenarnya… Kalau waktu itu kita chating dengan mantan pacar, maka mantan pacar kita dengan santun akan mengatakan, “Kamu harus tegar, Tabah ya, Kamu harus yakin dg dirimu dll kata-kata simpati yang bisa menggugah. Atau kalimat lain seperti “Kamu masih seperti dulu, masih sangat baik, masih… dll yang menggugah perhatiannya seperti pada masa lalu, maka bisa jadi itulah awal terjalinnya kembali perasaan masa lalu yang indah… Atau bisa jadi dia adalah teman biasa yang pernah kenal dimasa SMA atau Kuliah misalnya, atau dia hanya teman yg kenal di facebook saja, kalau chatingnya dilakukan terus menerus setiap hari dari pagi sampai malam, atau ada jadwal rutin chating dengannya, atau setiap buka facebook ada dia, dan ketika chating dibumbui dengan canda, ketawa ketiwi dan bahkan memancing lawan chating untuk mengungkapkan perasaannya (naudzubillahi mindzaliq) maka lambat laun perasaan itu tumbuh menjadi cinta yang dibisikkan oleh syetan, dan akhirnya menjerumuskan kita ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala…
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. QS. An Nur : 31.
Saudaraku…
Munkin itulah salah satu yang dimaksud dari hadits diatas. Bisa jadi, karena hanya ada dua orang berlainan jenis melakukan chating (mungkin bercanda ria) yang tidak ada siapapun yang tahu, maka disitulah wilayah syetan merusak kehidupan manusia, karena kita telah berduaan dari sisi perasaan dan hati, walaupun tidak berduaan dari sisi jasad. Sebab kalau kita sudah terlena, maka kita tidak akan tahu lagi mana batasan nilai kebenaran dan keburukan. Bisa jadi kita sedang “berzina…”
Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Nabi Saw telah bersabda “Perzinaan bagi mata adalah memandang, perzinaan bagi telinga adalah mendengar. perzinaan bagi mulut adalah pembicaraan. perzinaan bagi tangan adalah meraba, perzinaan bagi kaki adalah berjalan menuju kemaksiatan, dan perzinaan bagi hati adalah terangsang, berharap, dan membetulkan apa yang menjadi ajakan farji (alat kelamin) (HR Bukhari dan Muslim)
Bagi kita yang belum berumah tangga, jangan nodai identitas kita sebagai generasi muda Islam dg hal-hal yang picisan ini. Dan bagi saudaraku yang sudah berumah tangga, jagalah keluarga kita menjadi keluarga sakinah, warohmah dan da’wah. Jangan nodai bahkan dihancurkan dengan bisikan syetan hanya dengan fasilitas yang ada saat sekarang ini. Seharusnya fasilitas itu kita jadikan sarana untuk amal ma’ruf dan nahi mungkar…
Saudaraku…
Kita semua belum terlambat, masih ada kesempatan untuk menyadari bagi kita yang sudah terlanjur melakukannya… Dan bagi kita yang belum masuk dalam persoalan ini, mari kita bentengi diri kita dengan pemahaman yang benar tentang nilai-nilai Islam…
Saudaraku… maafkan kalau aku salah dalam menulis nasehat ini, karena aku hanya manusia biasa. Salam sayangku sebagai seorang yang mencinta Allah dan Rasul-Nya… Allahu Akbar…
Wassalam
Faiza Sabila.

Desember 9, 2008 pada 12:25 am Wah … saya juga ingin memperdalam hal tentang SAG seksi alam gaib, dulu saya belajar tentang tarekat yang dibisikan dari dada guru, cuma sudah lama sekali semenjak guru pergi ke malaysia, saya masih terus mencari seorang pembimbing untuk belajar tentang Agama, sampai akhirnya saya berjumpa dengan seorang Kyai yang berasal dari jawa, saya sudah di anggap sebagai anaknya sendiri … yang akan dipelajari adalah ilmu wujudiyah. Apakah disini ada bahasan untuk mencari yang tersirat dari Ajaran Islam ? seperti Sahadat ?Saya ingin belajar untuk dunia dan akherat, sape liang lahat tidak akan berhenti saya mencari …
Makasih sebelumnya atas komentarnya …
sabdalangit Berkata
Desember 9, 2008 pada 1:50 am Terimakasih Mas Isurganteng telah berkunjung. mudah2an tulisan di sini ada yang bermanfaat untuk panjenengan.
dalam ajaran Jawa/kejawen, banyak pembahasan mendalam (hakiki) akan pokok-pokok ajaran Islam. Termasuk syahadat; kejawen mengupas hakekat syahadat adalah sebuah kesaksian atau kejujuran mengakui bahwa Tuhan itu ada dan Tunggal. letaknya kesaksian dan kejujuran ada di mulut. Konsekuensinya adalah menuntut tanggungjawab atas segala ucapan kita senantiasa harus jujur, tdak munafik, tidak suka bohong.
karena kesaksian ini sebagai bentuk ikrar “perjanjian gaib” dengan Tuhan. maka ajaran kejawen memandang syahadat tidak cukup diucapkan saja, melainkan harus sinkron antara ucapan dan tindakannya,
Syahadat harus dimanifestasikan dalam perbuatan sehari-hari. wujudnya antara lain adalah sikap eling dan waspada.
Ketetapan syahadat, bilamana seseorang setia (konsisten) akan ucapan dan kesaksiannya. jadi kejawen menitik beratkan dimensi horisontal (habluminannas), sebagai penentu keberhasilan dimensi vertikal (habluminallah). dipersonifikasikan sbb; “aku mencintaimu..karena aku mencintaiNya”. kegagalanku mencintaimu, menjadi kegagalanku mencintaiNya”. kegagalan habluminannas, menjadi kegagalan habluminallah. maka untuk mengenali Tuhan, kenalilah diri kita sendiri dahulu.
NAMUN DEMIKIAN, pengertian “ibadah di dunia sebagai bekal di akherat” sering diartikan secara egois dan sempit. akibatnya orang giat sembahyang, sholat, puasa, haji. tapi zakatnya pun sangat dihitung-hitung jangan sampai lebih dari 2,5%.
nah, kita musti ingat, bahwa shalat, puasa, zikir, semua itu ibadah yg bersifat memenuhi kewajiban pribadi masing2 orang. berskala sempit dan individual saja. maka orang sering menjadi terlena, sebaliknya keharusan beribadah pada sesama justru terabaikan. sulit memang mencermati masalah rumit ini. tapi akibatnya apa? dengan mudah kita dapat saksikan, seorang berwatak ambigu, ambivalen, dualisme, tidak konsisten. yg tekun sembahyang, doanya fasih, hafal ayat-ayat dan sunah, TETAPI ahlak mulianya / budipekertinya bubrah parah. sense of human nya kosong, tidak peduli lingkungan sosial,
tekun shalat tapi gemar mencuri, giat berpuasa tetapi gencar pula bergunjing, bahkan sewaktu menjadi menteri agama, malah korupsi.
pada saat melihat tetangganya yang miskin jatuh sakit, ia malah tenang-tenang saja, karena merasa sudah banyak melakukan sembahyang lalu berfikir pahalanya sudah banyak. jadi enggan menolong.