”Give to Get Success” Membina Hubungan Baik untuk Meraih Sukses

Walo barang lama tapi patut ane renungi neh …..

sumber :

http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2003/0826/man01.html

Seringkali inilah yang ada dalam benak kita ketika kita sedang menganalisis kegagalan yang kita temui dan kesuksesan yang diraih orang lain. Jika kita renungkan lebih dalam lagi, ternyata akar kegagalan yang kita alami adalah kegagalan membina hubungan dengan orang-orang sekitar kita. Dalam meraih sukses, faktor bodoh atau pintar, kaya atau miskin, bukanlah hal utama. Les Giblin dalam bukunya The Art of Dealing with People mengatakan bahwa penyebab 90% orang gagal dalam kehidupan adalah kegagalan dalam membina hubungan dengan orang lain. Lalu, bagaimana kita membina hubungan dengan orang lain untuk meraih sukses?

Pengelola rubrik:
Roy Sembel, Sandra Sembel dan Tim ManDiri

Roy Sembel (http://www.roy-sembel.com) Direktur Program MM Keuangan Universitas Bina Nusantara, SAndara Sembel (edpro@cbn.net.id) adalah Dirut EdPro (Education for Professionals) sebuah lembaga pembelajaran untuk para eksekutif dan profesional.

Saya gagal karena saya bodoh.
Dia sukses karena dia pintar.
Saya gagal karena saya tidak punya uang.
Dia sukses karena memiliki banyak uang.
Saya gagal karena tidak ada yang mau membantu saya.
Dia sukses karena ia banyak dibantu orang.

Kita tidak bisa memaksa orang untuk membantu kita. Kita tidak bisa memaksa orang untuk menghargai dan menghormati kita. Kita tidak bisa memaksa orang untuk mengasihi kita, sehingga mereka mau melakukan apa yang kita inginkan untuk meraih sukses. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Jika dalam berbisnis kita perlu berinvestasi untuk meraih untung, demikian pula dalam meraih sukses: kita perlu memberi untuk mendapatkan sukses. Kuncinya hanya satu: Give to get success. Bagaimana caranya? Simak pembahasan berikut ini.

Hargai Orang Lain
Kita tidak bisa memaksa orang untuk menghargai kita. Kita tidak bisa membuat orang menghargai kita. Yang paling mudah untuk kita lakukan adalah bertindak terlebih dahulu dengan menghargai orang lain: Hargai pendapat mereka dan perbuatan mereka.
Hargai pendapat mereka. Setiap pendapat pasti memiliki latar belakang yang menyebabkan mereka memiliki pendapat tertentu. Cobalah mencari tahu mengapa ada pendapat seperti itu (terutama pendapat yang berbeda dengan pendapat kita). Setelah itu barulah Anda bisa berangkat dari sudut pandang yang sama untuk membawa mereka melihat cara pandang Anda.
Menurut Les Giblin, kita bisa membuat orang sependapat dengan kita dengan menunjukkan kesamaan dengan mereka. Misalnya Anda bisa berkata, “Pada awalnya, saya mempunyai pendapat yang sama dengan Anda, namun setelah saya memperoleh informasi ini, saya bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda.”
Cara lain yang bisa digunakan adalah melemparkan kesalahan pada obyek lain (misalnya: kurangnya informasi, pendeknya waktu mengambil keputusan). Sebagai contoh, Anda bisa berkata demikian: “Wajar saja jika Anda memiliki pendapat seperti ini, karena memang Anda hanya diberi informasi yang terbatas. Mudah-mudahan tambahan informasi berikut ini bisa membantu Anda untuk melihat persoalan ini secara lebih lengkap.”
Hargai perbuatan orang lain untuk kita: kehadiran mereka, pertolongan mereka, kemajuan mereka, ataupun informasi yang mereka berikan. Ucapkan terima kasih karena mereka telah bersedia datang ke acara yang Anda selenggarakan, karena mereka telah bersedia meluangkan waktu dan energi untuk membantu Anda, dan karena mereka telah bersusah payah mencarikan dan memberikan informasi yang Anda perlukan. Perhatikan dan berikan pujian untuk tiap kemajuan (seberapa pun kecilnya) yang mereka raih, sehingga mereka bisa mengerti kearah mana Anda menuntun mereka untuk melaju.
Misalnya saja seorang karyawan yang berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas yang baik, namun dengan waktu yang lambat, bisa diberi penghargaan sekaligus saran untuk perbaikan. Hargailah kualitas pekerjaannya dengan berkata: Saya senang sekali Anda bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan kualitas yang baik. Berikan saran untuk perbaikan, dengan nada positif: saya senang sekali Anda bisa melakukan pekerjaan ini dengan kualitas yang baik. Untuk selanjutnya, kita bisa bersama-sama mencari cara yang tepat agar pekerjaan seperti ini bisa diselesaikan dengan lebih cepat.

Hormati Mereka
Siapa yang patut dihormati: atasan, orang tua, guru, pemimpin rakyat, pemuka agama? Sebagai manusia, semua orang—bawahan, anak, murid, rakyat biasa, dan pengikut agama, ingin dianggap sebagai makhluk yang patut dihormati. Tidak ada yang ingin direndahkan, atau dianggap sebagai “nobody”. Jika mereka merasa dihormati, maka mereka pun akan menunjukkan sikap yang sama terhadap orang-orang yang menghormati mereka. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menunjukan rasa hormat kita pada orang lain.
Senyumlah, maka dunia pun akan tersenyum kepada Anda. Ternyata pepatah ini bukanlah isapan jempol saja, tetapi memang merefleksikan keampuhan senyum sebagai senjata sakti untuk membina hubungan baik dengan orang lain. Ingin bukti? Jika Anda bertemu dengan orang lain di lift, cobalah pandang orang tersebut dan tersenyum, pasti orang itu akan membalas senyum Anda.
Jika Anda memegang seorang bayi yang sedang tertawa dan tersenyum, cobalah Anda pandang wajahnya yang ceria, pasti Anda pun akan tersenyum. Ternyata, senyum itu merupakan senjata ampuh untuk menebar pesona. Jika Anda sudah berhasil mempesona orang lain, apapun yang Anda minta, orang akan dengan senang hati melakukannya untuk Anda (tentunya sesuai dengan kemampuan mereka).
“Selamat pagi, Pak Fendy! Selamat siang, Bu Mona! Selamat sore, Pak Herry! Selamat malam, Bu Maria!” Sapaan yang disertai dengan senyum yang tulus akan terasa lebih berarti dan lebih berkesan. Sapaan akan menimbulkan reaksi berantai. Jika kita menyapa, orang akan menyapa balik. Jadi sapaan menciptakan interaksi aktif.
Dengan menyapa orang, Anda mengirim “pesan” kepada mereka bahwa Anda memperhatikan keberadaan mereka. Dengan menyapa orang lain (apalagi jika disertai dengan senyum yang tulus), Anda memberi kesan bahwa Anda memang senang bertemu dengan mereka. Dengan menyapa orang terlebih dahulu (bukannya menunggu untuk disapa), Anda menunjukkan kepada mereka bahwa Anda menghormati mereka.
“Silahkan duduk, Bu! Terima kasih sudah datang ke tempat kami yang jauh! Kami sangat senang Ibu sudah bersedia datang kemari!” Jika mendengar kalimat-kalimat santun yang merdu di telinga seperti ini, pasti kita akan merasa diterima oleh yang mengucapkan kalimat-kalimat tersebut. Kita merasa bahwa kita sedang bertatap muka dengan teman, bukan musuh. Kita merasa bahwa kita dihormati, bukan disepelekan. Kita merasa diperhatikan, bukan diabaikan.
Perasaan-perasaan positif yang terbangun dari sikap santun ini juga tentunya akan membuahkan sesuatu yang positif: ide-ide kita bisa lebih diterima, permasalahan kita bisa lebih dimengerti, dan kesempatan untuk bekerja sama dan membina hubungan lebih lanjut pun lebih terbuka. Jadi tanamkan sikap santun, karena sikap ini membuka jalan menuju sukses.

Kasihi Orang Lain
“Lautan pun kan kuseberangi. Gunung pun kan kudaki. Badai kan kuterjang.” Kata-kata puitis yang sering dirangkai seorang penyair ataupun pembuat lagu menunjukkan kedahsyatan “kasih”. Jika kita mengasihi orang lain, pastilah kita ingin membuat orang bahagia: kita menganggap mereka penting, kita akan bersedia membantu mereka menjadi pemenang, dan kita akan senantiasa mencarikan dan menciptakan kesempatan-kesempatan kepada merek untuk berkembang meraih sukses. Betapa berbahagianya kita, jika kita memiliki orang-orang yang mengasihi kita sedemikian rupa sehingga mereka bersedia membantu kita untuk meraih sukses.
Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah membuat orang lain merasa penting. Seringkali kita ingin sekali dianggap penting, sehingga kita akhirnya meremehkan orang lain dan menganggap mereka tidak penting. Akibatnya, bukannya kita dianggap penting oleh orang lain, melainkan kita dibenci karena dianggap sombong, terlalu mementingkan diri sendiri.
Untuk membuat orang merasa penting, kita perlu memberi tahu bahwa mereka penting. Dengarkan pendapat mereka, sebelum kita memberikan pendapat kita. Gunakan ide-ide mereka yang memang baik untuk digunakan sebelum kita sampaikan ide-ide untuk melengkapi ide mereka.
Cobalah mengerti keluhan dan kesulitan mereka, agar kita bisa membantu mereka untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Jika orang merasa bahwa kita menganggap mereka penting, maka tentunya mereka akan lebih terbuka bagi masukan dan usulan dari kita.
Selain itu, kita juga bisa membantu mereka untuk menjadi pemenang. Semua orang ingin berhasil. Tapi semua orang perlu orang lain untuk membantu mereka meraih sukses. Gene Bedell mengusulkan tiga cara untuk membantu orang menjadi pemenang: kenali kebutuhan orang lain, berikan kepada mereka lebih dari yang mereka minta, jangan beragumentasi terutama mengenai hal-hal yang tidak penting, harmonisasikan kepentingan mereka dengan kepentingan kita.
Kenali kepentingan orang lain dengan memberikan perhatian kepada masalah, kebutuhan, kesulitan yang dihadapi orang lain. Jika kita melihat orang lain sedang menghadapi masalah, kita tidak usah menunggu sampai diminta, tawarkan saja bantuan Anda: “Saya pernah mengalami masalah yang serupa, mungkin pengalaman saya menangani masalah tersebut bisa membantu Anda sebagai masukan untuk menangani masalah Anda.”
Berikan pada orang lain, lebih dari yang mereka minta. Hal ini akan merupakan kejutan yang menyenangkan bagi mereka. Misalnya, jika seorang teman bertanya kepada Anda apakah Anda punya informasi tentang dokter gigi yang handal, jika memungkinkan, selain memberikan nomor telepon dari dokter gigi tersebut, Anda bisa juga memberikan kejutan dengan menunjukkan kesediaan Anda mengantar mereka ke tempat praktik dokter tersebut, atau pun mengenalkan mereka secara pribadi.
Strategi yang menyarankan kita untuk menghindari debat kusir yang tak berakhir. Argumentasi dilakukan untuk tujuan mendapatkan mengeksplorasi beberapa alternatif untuk mendapatkan alternatif yang terbaik.
Jadi, fokuskan pada tujuan, jangan pada perdebatannya, ataupun pada orangnya, apalagi jika perdebatan yang terjadi hanyalah mengenai hal-hal yang tidak penting. Walaupun pada akhirnya kita bisa memenangkan perdebatan yang sengit tersebut, biasanya kemungkinan besar yang akan terjadi adalah kita kehilangan dukungan orang yang telah berhasil kita kalahkan dalam perdebatan.
Mereka yang merasa kalah dalam perdebatan tersebut, akan merasa dikecilkan, dipermalukan, dan yang paling parah adalah sakit hati. Wajarlah, jika orang-orang seperti ini dengan kumpulan emosi negatif terhadap kita, akan menutup diri bagi pendapat, masukan, dan ajakan kita (seberapa pun bagusnya pendapat, masukan, dan ajakan tersebut). Mereka juga akan enggan untuk membantu kita, apalagi mendukung kita untuk meraih sukses.
Sukses tidak diraih dalam sekejap. Untuk memperoleh sukses, diperlukan investasi dalam membina hubungan baik dengan orang lain. Tanpa mereka, sulit bagi kita untuk meraih sukses. Jadi, bantulah orang lain untuk mendapatkan yang mereka inginkan, sebelum kita dibantu untuk mendapatkan yang kita inginkan. Singkatnya, berilah sukses, maka Anda akan memperoleh sukses. Selamat mencoba!n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s